Lelaki itu menggandeng bocah yang terus mempercepat langkahnya. Sesekali si bocah melirik kuda yang melintas, lalu ia pun makin bergegas. Di sudut lapangan, tak jauh dari Gedung UIN Sunan Ampel di Jalan Dr. Ir. Soekarno, Surabaya, mereka berhenti.
Mendekati persewaan kuda, lalu tawar menawar dimulai. Beberapa lembar Rp 5000-an berpindah tangan. Ya, menjelang senja, beberapa jam sebelum Hari Idul Adha. Si anak girang bukan kepalang, bergoyang di atas pelana kuda.
Aroma hewan kurban yang tersisa, tak menggoyahkan tawanya. Tangan mungil melambai, menyapa sang ayah yang menatap dari jauh.
Tak jauh dari mereka, beberapa pengunjung datang dengan motor atau berjalan kaki. Ada wanita menggandeng anaknya yang sibuk melihat kambing berjajar menunggu pembeli, atau seorang lelaki muda menggendong sang buah hati sambil melihat beberapa ekor sapi.
Lapangan ini tiba-tiba tumbuh menjadi ajang wisata keluarga. Sementara tak jauh dari situ, beberapa tenda berdiri lengkap dengan kambing, sapi, dan para calon pembeli.
Lapak-lapak ini berdiri sejak 3-4 minggu lalu, berdiri dengan mengandalkan terpal dan bambu. Meski demikian, transaksi ratusan juta rupiah terus berkelebat khususnya di minggu terakhir menjelang Idul Qurban.
Dari lapak-lapak hewan qurban, area ini kian menjanjikan setelah pedagang makanan berdatangan. Ditambah pedagang kaki lima, layang-layang, persewaan kuda, bahkan area bermain untuk anak.
Seperti Idul Fitri yang selalu dinanti, Idul Adha pun mengundang harapan dan doa. Agar rezeki terus mengalir, agar perputaran uang menutup rasa khawatir.