Surabaya (beritajatim.com) – Tujuh tahun telah berlalu sejak peristiwa tragis mengguncang Kota Surabaya pada 13 Mei 2018. Tiga gereja di kota ini menjadi sasaran serangan bom bunuh diri yang dilakukan oleh satu keluarga, menewaskan 14 orang, termasuk enam pelaku. Kini, peristiwa itu dikenang bukan hanya sebagai tragedi, tetapi juga sebagai tonggak persatuan dan harapan lintas iman.
Peringatan tahun 2025 digelar pada Rabu malam (14/5) di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Jalan Ngagel Madya, Surabaya. Mengusung tema “Agama, untuk Apa?”, acara ini diwarnai doa lintas agama dan kegiatan simbolis berupa penanaman pohon Ketapang Kencana, melambangkan harapan baru yang tumbuh dari luka lama.
Mengenang dengan Harapan
Tiga gereja yang menjadi sasaran serangan tujuh tahun silam adalah Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) di Jalan Arjuno, Gereja Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya, dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Jalan Diponegoro.
Sejak saat itu, tanggal 13 Mei diperingati setiap tahun sebagai momen reflektif oleh warga Surabaya, khususnya umat beragama yang terus menjaga semangat toleransi dan perdamaian. Peringatan ini bukan hanya mengenang korban, tapi juga meneguhkan komitmen bersama terhadap rekonsiliasi dan hidup berdampingan.
Romo Alexius Kurdo Irianto, dalam refleksinya pada Rabu malam, menyebut peristiwa ini sebagai peristiwa iman. “Peristiwa ini memperteguh persaudaraan, pengampunan, kerukunan, dan kedamaian. Setiap tahun kita repetisi bukan untuk membuka luka, tetapi untuk membaca masa depan,” ujar Romo Alexius.
Simbol Harapan: Ketapang Kencana
Sebagai bentuk penghormatan, panitia peringatan menanam pohon Ketapang Kencana di halaman gereja. Ketua pelaksana acara, Wicaksana Isa, menjelaskan bahwa pohon ini dipilih karena maknanya yang kuat.
“Akar yang kokoh dan dahan yang rindang menjadi simbol komitmen kita terhadap perdamaian dan penghormatan pada para korban bom 13 Mei,” ujarnya. “Ini juga menjadi semangat bagi generasi muda untuk peduli pada lingkungan dan masyarakat.”
Penanaman pohon akan dilanjutkan pada 17 dan 18 Mei 2025 di Makam Umum Keputih, bekerja sama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Surabaya. Lokasi ini dipilih karena masih memiliki lahan hijau yang luas dan cocok untuk penghijauan berkelanjutan.
Dari Luka, Tumbuh Harapan
Tragedi 13 Mei 2018 memang meninggalkan luka mendalam. Namun, dari duka itu pula warga Surabaya belajar untuk bangkit, bersatu, dan merawat nilai-nilai kemanusiaan.
Doa bersama, aksi simbolik, dan semangat lintas agama yang ditunjukkan tahun demi tahun menjadi bukti nyata bahwa dari tempat tergelap pun, harapan masih bisa tumbuh. Dan Surabaya membuktikannya dengan tindakan, bukan hanya kata-kata. (ram/ted)









