Surabaya (beritajatim.id) – Program Kuliah Kerja Nyata Belajar Bersama Komunitas (KKN BBK) 7 Universitas Airlangga (UNAIR) yang berlangsung selama satu bulan di Desa Sobrah dan Kelurahan Mojoasem meninggalkan dampak positif yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Pengabdian mahasiswa tidak hanya berfokus pada kegiatan seremonial, tetapi diarahkan pada solusi praktis yang berkelanjutan di berbagai sektor.
Di Desa Sobrah, mahasiswa BBK 7 UNAIR menginisiasi program kesehatan masyarakat dengan memanfaatkan potensi bahan alami lokal. Salah satu inovasi yang diperkenalkan adalah pembuatan spray anti nyamuk berbahan daun serai dan kulit jeruk. Program ini ditujukan untuk membantu pencegahan demam berdarah dengue (DBD) sekaligus meningkatkan kesadaran warga akan pentingnya kesehatan lingkungan.
Kontribusi mahasiswa juga terasa kuat di bidang pendidikan. Kehadiran mereka di sekolah-sekolah memberikan warna baru dalam proses belajar mengajar. Kepala SD Negeri Sobrah, Devie, menilai keterlibatan mahasiswa membawa suasana pembelajaran yang lebih segar dan mampu meningkatkan antusiasme siswa. Hal serupa disampaikan Kepala MI Al Hikmah Sobrah, Erna, yang mengapresiasi program edukatif seperti Sobrah English Camp karena memberikan pengalaman belajar yang berbeda dan lebih interaktif bagi anak-anak.
Selain pendidikan dan kesehatan, mahasiswa BBK 7 UNAIR turut menghadirkan solusi di sektor lingkungan dan pertanian. Program pengolahan arang sekam dinilai membantu petani dalam mengelola limbah pertanian agar lebih bermanfaat. Ketua Gapoktan Desa Sobrah, Anam, menilai inisiatif tersebut relevan dengan kebutuhan warga yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
Sikap mahasiswa selama masa pengabdian juga meninggalkan kesan positif. Masyarakat menilai mereka mampu beradaptasi dengan lingkungan sekitar dan membangun hubungan sosial yang baik dalam waktu relatif singkat.
Manfaat serupa dirasakan masyarakat Kelurahan Mojoasem, Gresik. Berbagai program kerja yang dijalankan mahasiswa BBK 7 UNAIR dinilai mendukung kegiatan pendidikan anak-anak, terutama melalui pendampingan belajar dan les rutin pada malam hari. Khusnul, anggota PKK Mojoasem, menilai kehadiran mahasiswa memberi kontribusi nyata meski waktu pengabdian relatif singkat.
Program pemberdayaan keluarga juga mendapat perhatian, terutama kegiatan memasak makanan bergizi dan pelatihan pembuatan teh bunga telang. Selain mudah dipraktikkan, program ini dinilai memiliki manfaat jangka panjang karena memanfaatkan tanaman yang dapat dibudidayakan sendiri oleh warga.
Secara keseluruhan, pelaksanaan KKN BBK 7 UNAIR tidak hanya memperkuat peran mahasiswa sebagai agen perubahan, tetapi juga menghadirkan dampak nyata melalui peningkatan kualitas pendidikan, pengelolaan potensi lokal, serta penguatan hubungan sosial antara mahasiswa dan masyarakat. Program ini menjadi contoh pengabdian yang relevan dengan kebutuhan riil warga dan berorientasi pada keberlanjutan. (can)







