Surabaya (beritajatim.id) — Kota Surabaya diguncang kerusuhan besar pada 29–30 Agustus 2025 setelah aksi solidaritas yang awalnya berlangsung damai berubah menjadi bentrokan. Ribuan massa yang terdiri dari pengemudi ojek online, mahasiswa, buruh, hingga masyarakat sipil turun ke jalan untuk memprotes dugaan kekerasan aparat dalam penanganan aksi serupa di kota lain.
Tuntutan Massa dan Awal Ketegangan
Aksi dimulai sejak siang 29 Agustus di kawasan Taman Apsari dan Jalan Gubernur Suryo. Massa membawa spanduk serta poster, menyuarakan tiga tuntutan utama:
- Pengusutan dugaan kekerasan aparat.
- Pembebasan aktivis dan demonstran yang ditangkap.
- Jaminan perlindungan hak demokratis warga negara.
Ketegangan meningkat ketika barikade aparat didorong. Lemparan botol dan batu berbalas tembakan gas air mata serta water cannon, memicu situasi semakin panas.
Gubernur dan Pangdam Turun Tangan
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rafael Granada Baay sempat menemui massa di depan Gedung Negara Grahadi.
Khofifah menegaskan pemerintah mendengar aspirasi rakyat, sementara Pangdam menekankan netralitas TNI dan menyerukan aksi damai. Namun, imbauan tersebut gagal meredam massa. Beberapa jam kemudian, bentrokan kembali pecah hingga mengakibatkan 21 sepeda motor pegawai pemerintah terbakar di area Grahadi.
Gedung Grahadi Dilalap Api
Kerusuhan semakin meluas pada malam 30 Agustus. Massa melemparkan bom molotov yang akhirnya membakar bagian barat Gedung Grahadi. Api menjalar cepat ke ruang kerja Wakil Gubernur, ruang Protokol Umum, serta ruang pers yang biasa digunakan wartawan.
Asap hitam pekat membumbung tinggi sementara petugas pemadam kebakaran berjuang hampir dua jam untuk mengendalikan si jago merah. Kerusakan gedung dilaporkan cukup parah.
Pos Polisi Jadi Sasaran
Selain Gedung Grahadi, amarah massa juga menyasar pos-pos polisi. Setidaknya 10 pos polisi dibakar, antara lain di Taman Bungkul, Jagir Wonokromo, Margorejo, depan Kebun Binatang Surabaya, Jalan Dharmawangsa, hingga depan Mall City of Tomorrow (CITO).
Kantor Polsek Tegalsari juga dilaporkan rusak pada pagar dan jendelanya. Massa merusak rambu lalu lintas, membakar barikade beton, dan menimbulkan kekacauan di berbagai jalan utama.
Surabaya Lumpuh Pascarusuh
Pagi 31 Agustus, Surabaya tampak porak-poranda. Jalan Pemuda, Basuki Rahmat, hingga Raya Gubeng dipenuhi puing dan sisa-sisa bentrokan. Sejumlah toko memilih tutup, lalu lintas lumpuh, dan aktivitas warga terhenti hingga sore hari.
Kerusuhan dua hari tersebut menjadi salah satu peristiwa terburuk di Surabaya dalam dua dekade terakhir, meninggalkan trauma bagi warga sekaligus tanda tanya besar mengenai arah penanganan aksi massa di Indonesia. (can)









